Ini Jakarta, Bukan Rumah Megah Dengan Taman Bunga!

Kemarin, saya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan kawan lama di tempat kerja sebelumnya. Cuma untuk sekedar kongkow di salah salah satu angkringan, tanpa gadget, foto -  foto narsis atau check-in di tempat prestige. I really don't care about prestige. Just want to shared about anything what was happened between us.

Saling bertukar kabar berita, tertawa bersama, cekikikan. Bercerita apapun itu, ngalor - ngidul tanpa arah. Sampai suatu topik yang membicarakan tentang masa lalu salah satu teman saya yang cukup tragis. Haha just kidding!

Vian sebelum datang ke Jakarta, hanya seorang anak kecil lemah dari desa terpencil di Flores. Dibuai oleh angan - angan seorang kerabat untuk datang dan tinggal di Jakarta. Yang ada di bayangannya adalah bahwa ia akan bahagia di Jakarta. Tinggal di rumah tantenya, yang besar dengan taman luas di halaman rumah dan ia berkhayal akan banyak menghabiskan waktu bermainnya disana. Juga harus membersihkan tempat bermainnya agar tetap nyaman dan indah. Everything is beautiful. Which in his mind.


Sampai pada hari H ia datang ke Jakarta dengan buah tangan dari kampung; tiga buah kelapa hijau, pisang beberapa sisir dan membawa tas -atau bisa dibilang karung beras yang dijahit menjadi tas oleh mama tersayangnya- berisi beberapa bajunya serta uang sebesar 80 ribu -itupun hasil meminjam ke beberapa tetangga di kampung- hanya untuk SPP tidak kurang tidak lebih. Dengan beberapa kejadian miris dialami selama perjalanan, seperti dompet jatuh dan ditinggal bus -dan otomatis harus berjalan kaki meraba jalanan asing- sampailah ia ke Jakarta dan cukup ternganga. Tidak ada rumah besar dengan taman luas di pekarangan, hanya rumah satu petak dengan kurang lebih enam orang penghuni. Hilang sudah mimpinya entah kemana.

Sejak saat itu, kalau saja bisa bermimpi hidup indah di Jakarta akan Vian lakukan. Tapi ini hanya untuk sekedar bermimpi saja ia tidak memiliki waktu, ia harus menghemat tenaga untuk bangun pagi - pagi, memasak beras untuk makan sekeluarga, berangkat ke sekolah dengan jarak kurang lebih 4-5km berjalan kaki. Yapp berjalan kaki. Kemudian harus pulang dengan berjalan kaki pula. Membersihkan rumah dan yang paling sulit adalah menerima omelan setiap hari dari tantenya. Ini bukan hiperbola, tapi benar setiap hari. Dan omelan

Sedih saat melihat rekan sebayanya yang bisa cukup waktu bermain - main sepulang sekolah, membeli apapun yang diinginkannya, memiliki sepeda bagus, nonton tv, makan enak dan kesenangan lainnya. Jangankan mau beli sepeda, diberi uang jajan ke sekolah saja tidak. Jangankan nonton tv, kalau bukan acara berita yang tayang kurang lebih 30 menit tv akan dimatikan, pemborosan, ingat! Jangankan makan enak, porsi makanan -nasi panas atau kadang bubur ditaburi garam dan parutan kelapa- saja dijatah. Dan apakah saya sudah bilang bahwa tidak ada makan malam sebelum sang kepala keluarga -pencari nafkah- pulang? It's killed him slowly. Fucked off consuetude! but for the God sake, it's good for you.
  
Rasanya seperti menghadapi kasus perampasan hak asasi anak - anak. Jadi saya bertanya dengan serius, bagaimana bisa? Bertahan hanya untuk makan bubur dengan topping garam dan parutan kelapa? Atau pasrah pada kehidupan keras Jakarta? Atau sudah lupa caranya bermimpi dan memiliki harapan?

Kemudian dengan serius ia menjawab, at that time, that's what I should do. If not, even to this day I am still asking my mom to send money  -who knows! borrowed from where else-
and I would be more jerk than I am now.

That is how I think now. That's why he's good and respect and how lucky I have friend as jerk as him. Ha ha ha.


0 comments:

Post a Comment

Thanks for comments, I will reply soon!