Sang Fotografer

Ini kisah tiga tahun silam. Saat saya dan teman-teman terdekat saya pergi untuk foto studio. Bertemu dengan sang fotografer di ruangan.

Keadaan saat itu seperti biasa, sebisa mungkin setiap weekend atau hari libur kita menyempatkan untuk berkumpul, entah itu jalan-jalan atau hanya sekedar menghabiskan waktu di rumah salah satu. Ceria, atraktif, penuh semangat and full of happiness, as always! Tak jarang saat berkumpul keisengan, tingkah konyol dan saling berbagi menghiasi masa-masa sekolah kami. What a wonderful life that I ever had!

Yang menarik adalah saya dan teman-teman sempat berdebat dengan sang fotografer. Entah dimulai dengan percakapan apa saat itu. Kami mengelak dan sangat tidak setuju dengan perkataan sang fotografer tersebut. Yang mengatakan bahwa “Mungkin saat ini kalian masih bisa sering berkumpul bersama dan tertawa, tapi nanti lambat laun, kalian akan berpisah karena kepentingan masing-masing. Percayalah kalian harus memanfaatkan waktu yang ada sekarang.”

Jujur kami sangat kecewa dengan penuturan sang fotografer. Bak cenayang, seenaknya saja ia meramal seperti itu. Tidak lihatkah betapa kompak dan bahagianya kami saat ini? Semuanya baik-baik saja dan kami tak akan pernah terpecah. Begitulah kira-kira jeritan hati saya melawan.

Bahkan fotografer tersebut rela bertaruh akan memotong telinganya kalau perkataannya meleset. Ah, sepertinya sang fotografer memiliki sedikit gangguan! Saya benar benar mengacuhkan sang fotografer tersebut.

Hari itu terlewat begitu saja. Terus berganti. Sampai hari ini, telah banyak yang saya dan teman teman saya lalui masing-masing. Yap! Masing-masing.

Dan sekarang saatnyalah saya mengakui kebenaran sang fotografer tersebut. Kami terpisah. Tepat saat acara kelulusan di sekolah. Masing-masing dari kami mulai menjemput mimpi. Menyusun langkah untuk kesuksesan masing-masing. Dengan cara masing-masing. Untuk kepentingan masing-masing. Ya, segalanya masing-masing.

Dari kami, ada yang melanjutkan studi diluar kota dan adapula yang memutuskan berpindah domisili dengan alasan dan kepentingan masing-masing.

Saya dan mungkin teman teman saya sadar, bahwa kita tidak akan selamanya akan bersama-sama dengan menempuh jalan yang sama. Tujuan kita mungkin sama, mencapai kebahagiaan atau kesuksesan, namun hanya jalannya saja berbeda.

Teman temanku, tetaplah semangat untuk mimpi yang hendak dicapai. Jangan lupa doa dan restu orang tua kita. Jagalah mereka sampai nanti toga wisuda kita menghapus lelah dan keringatnya selama ini. Pengorbanan dan juga kasih sayangnya.

Teman-temanku, jika suatu hari kalian menghubungiku, tapi aku tak bisa berada ditengah kalian, aku mohon jangan pernah salah paham. Mungkin saat itu aku hanya sedang berjuang melawan kerikil dihidupku sendirian. Tanpa kalian.

Mungkin akan banyak orang baru dihidupku nanti, atau mungkin sesosok cinta yang mengisi relung hati ini, tapi percayalah teman-temanku, akan selalu ada tempat spesial di hatiku untuk kalian.

Kita memang terpisah. Kita memang jarang berjumpa. Tapi percayalah temanku, tidak sedikit pun aku melupakan kenangan manis kita saat disekolah. Tingkah konyol dan tawa riang kalian adalah semangatku untuk cepat-cepat menuntaskan tugas ini. Sehingga kita bisa bertemu suatu saat nanti dengan kisah sukses di tangan. Amin.

0 comments:

Post a Comment

Thanks for comments, I will reply soon!