The Brother

Cerita pendek ini adalah arsip saya tahun 2011. Saya buat untuk teman saya waktu di SMA. Tidak sebagus penulis lain, tapi saya menyukai proses menulisnya.


1318803447184


Semua sudah siap apalagi ya..


Sraakk!! Tanganku tak sengaja menyenggol sebuah amplop coklat. Aku membuat isinya berserakan. Ku berjongkok hendak membereskannya tapi


“Kakak..” ucapku lirih. Aku memungut salah satu isi dari amplop tersebut. Selembar foto yang menampakkan bayanganku di umur 4 tahun. Dalam foto itu, disampingku berdiri sesoasok yang sangat ku rindukan. Ia berumur tiga tahun lebih tua dariku. Terlihat ia sedang menembakkan pistol air kesayangannya padaku. Ia adalah Vino, kakak kandungku yang menghilang sejak 15 tahun silam.


***THE BROTHER***


Dilain tempat, seorang berwajah stoic sedang duduk sambil melihat lembar demi lembar foto hasil bidikan anak buahnya. Seorang yang diketahui sebagai pimpinan Mafia Yakuza terbesar di daerah Sabuya, Jepang itu mengernyitkan dahi dan alisnya. Ia memutar mutar salah satu hasil bidikan anak buahnya yang ceroboh.


“Bagaimana bisa kau memotret dengan sangat buruk seperti ini?” kata laki laki stoic itu pelan tapi menusuk. Yang diajak bicara alias anak buahnya malah tertunduk takut menandakan penyesalannya yang tidak becus membidik. “Tapi wajahnya tidak asing bagiku.” Lanjutnya lirih.


“Maaf bos ia adalah intel baru dari INPA, oleh karena itu ia selau menutupi identitasnya. Namanya adalah Elven. Ia selau menggunakan masker hitam, kami sulit untuk mengenalinya dengan jelas.” Jelas sang ajudan.


‘Oh Tuhan’ batin sang pimpinan.


***THE BROTHER***


-Flashback On-
“Kakak, apa yang cedang kau buat, hm?” tanya bocah cadel pada kakaknya yang kini sedang menggali tanah di bawah pohon kelapa. Tapi sang kakak masih tetap denga pekerjaannya. “Kakak, aku beltanya padamu. Uch!” kini sang adik mempoutkan bibirnya tanda ia kesal.


“Ah! Selesai!” Akhirnya sang kakak bersuara.


“Eum, apanya yang celecai?” tanya lagi sang adik dengan mata berbinar binar.


“Ya! Kau tak lihat daritadi aku mengubur surat permohonan kita di sini. Suatu saat, saat kita dewasa nanti kita akan kembali ke tempat ini dan kita akan buktikan bahwa impian kita terkabul.” Jelas sang kakak semangat. Sedang, sang adik memandang intens kakanya lucu. Sang kakak memutar matanya malas seakan mengerti kebingungan sang adik.


“Aish, kau ini! Dasar anak kecil! Aku yakin permohonan yang kita tulis di kertas tadi akan menjadi nyata. Makanya kita akan kembali kelak untuk membuktikannya. Apa kau sudah mengerti Elven?”


“Umm cepelti itu toh. Aku mengelti kok kak Vino. Tadi Elven menulis ‘aku ingin naik cepeda belsama kak Vino’ belalti kakak akan mengajaliku naik cepeda kan?” celoteh Elven sang adik.


“Aish! Kenapa kau membocorkan permohonanmu Ven?” kata Vino frustasi.


“Baiklah lebih baik kita pulang, sudah waktunya kau minum obat.” Vino menarik paksa tangan adiknya, tapi yang ditarik tidak bergeming. Ia malah diam tertunduk lesu.


“Kau ini kenapa? Ayo kita pulang!”


“Aku tidak ingin pulang! Dicana tidak ada Ayah dan Ibu. Kakak bilang meleka cegela pulang.” Kata Elven dengan sedih.


“Mungkin besok mereka baru kembali. Ayolah, jangan kekanak kanakan!”
“ELVEN NGGAK MAU PULANG. MELEKA JAHAT! ELVEN BENCI AYAH DAN IBU!” teriak Elven pada kakaknya. Kakanya hanya bisa memandang miris. “ELVEN MAU BELAJAL NAIK CEPEDA, TAPI AYAH DAN IBU NGGA ADA. ELVEN JUGA NGGA MAU MINUM OBAT PAHIT ITU!!”


Aku memeluknya. Hatiku sakit mendengarnya. Betapa menderitanya adikku yang paling aku sayang sekaligus harta satu satunya yang kupunya saat ini. Ya, memang benar apa yang dikatakan Elven tadi. Orang tua kami memang sudah dua bulan ini tidak pulang kerumah kami karena mereka mengalami kecelakaan tunggal saat hendak pulang kerumah malam itu.


Dan adikku Elven mengidap kanker hati. Beruntung penyakit Elven dapat terdeteksi lebih dini namun tetap mematikan. Dibutuhkan biaya besar untuk pengobatannya. Aku tidak tau harus mendapatkan darimana uang tersebut tapi yang jelas aku akan selalu melindungi serta menjaga Elven sampai aku tidak bisa bernapas lagi. Dan itulah permohonan yang kutulis dalam surat kaleng yang ku kubur di bawah tanah.
-Flashback Off-


***THE BROTHER***


Hari ini adalah hari terakhir Elven di Indonesia. Karena besok, ia harus pergi ke Jepang untuk melaksanakan misi INPA. INPA atau Indonesia National Police Agency adalah suatu tim khusus SWAT dan di Jakarta sendiri ada sekitar 4 Squadrons. Itu dilakukan mengingat Ibu Kota adalah tempat pengedar ganja kering terbesar di Indonesia.


Saat sedang menikmati sedikit liburannya, ia berhenti pada suatu etalase toko. Ia melihat deretan LCD yang sedang menayangkan berita terkini.
“Saat ini INPA berhasil membekuk seorang pimpinan Mafia Yakuza dari Jepang, Takumi yang selama ini menjadi target utama dari INPA. Ia berhasil digrebek oleh INPA saat tengah berada di sebuah pantai di kawasan Jawa Barat. Anehnya, ia berada seorang diri disana. Dan setelah melakukan pengintaian selama hampir setahun, kini INPA menahan Takumi di ruangan khusus di Markas INPA. Disinyalir Takumi merupakan keturunan Indonesia dan bukan orang asli Jepang..” mendengar potongan berita tersebut, Elven langsung bergegas pergi menuju Markas INPA.


***THE BROTHER***


“SHIT!! Bagaimana mungkin bos bisa tertangkap! Bagaimana cara kalian menjaganya, HAH!!?” murka si ajudan pada salah satu anak buahnya.


“Bos mengatakan bahwa ia akan pergi ke suatu tempat kenangan bersama adiknya. Jadi kami dilarang mengikutinya. Dan ternyata intel dari INPA sedang mengintainya.” Ungkap salah seorang yang diketahui anggota Yakuza.


Setelah dapat mengontrol kemarahannya karena pimpinannya tertangkap, si ajudan memerintahkan seluruh anggota besarnya untuk bersiap melawan INPA dan membebaskan kembali Takumi.


***THE BROTHER***


Di Markas INPA...
Pantai itu. Pohon itu. Disana adalah tempat aku dan kakak mengubur surat permohonan kami. Tapi kenapa Takumi bisa ada disana seorang diri? Harusnya pemimpin mafia sebesar Takumi tidak akan mungkin berpergian sendiri di luar negerinya. Tunggu.. ia disinyalir bukan orang Jepang, apa mungkin ia adalah orang Indonesia? Akh! Aku harus memastikannya.


Aku pun memasuki ruang khusus yang digunakan untuk menahan Takumi. Dari balik jeruji, aku melihat seseorang yang sedang duduk menyender pada dinding sambil menundukkan kepala diantara lipatan lututnya. Ia menganakan pakaian khas tahanan.


“Takumi..” ucapku lirih, entah mengapa jantungku berdebar.
Yang ku panggil mulai menampakkan wajahnya.


‘ASTAGA!’ batinku. Dia.. dia.. apa dia Vino kakakku?? Tubuhku menegang, kakiku terasa gemetar, detak jantungku pun bekerja 10 kali lebih cepat. Aku mencoba memberanikan diri masuk ke dalam selnya.


“Kakak..” ucapku lirih padanya. Kini aku telah berdiri dihadapannya. Tapi kenapa ia hanya diam. Apa aku salah orang?


“Kak Vino??!! Apa kau lupa padaku? Aku Elven, adikmu.” Kataku hampir menangis. Oh tuhan, apa ini mimpi? Akhirnya setelah bertahun tahun aku mencarinya, kini ia ada di hadapanku. Aku tak mungkin salah ya Tuhan.


Aku dengan sangat jelas mengenalinya. Wajahnya, tatapan matanya, dan yang terpenting, tanda lahir di tangan kirinya. Ya! Aku sangat yakin ia adalah Vino.


Kulihat ia mengernyitkan dahinya dengan masih menatapku intens.


“El..ven?” akhirnya ia bersuara, kulihat matanya berair.


‘Bugh’ refleks aku memeluknya.


Terimakasih ya Tuhan, ternyata aku benar.


***THE BROTHER***


“Kapten! Mereka datang!” kata seorang anggota INPA.


“Baik. Ayo jalan!” kata yang dipanggil kapten tersebut. Aku ditarik paksa oleh kapten tersebut. Tanganku diikat kebelakang dengan borgol. Kakiku juga diikat oleh rantai. Dan mulutku dilakban. Aku hanya bisa melihat semuanya tanpa bisa bertindak.


Aku sampai di suatu ruangan. Entah ini ruangan apa. Yang jelas ini adalah markas INPA. Tapi mana adikku, mengapa ia tidak ada diantara pasukan INPA?


Dan sesuatu yang keras, ku tau itu pistol menekan kepalaku. Oh tuhan, aku masih ingin hidup dan melihat adikku.


“Menyerahlah! Atau kutembak pimpinan kalian!!” kata Kapten Mark yang menyanderaku. Kulihat anak buahku telah berada diseberang sana lengkap dengan persenjataannya. Mereka pasti ingin menyelamatkanku.


“Lepaskan dia.” Kata ajudanku, Tomoki.


Salah satu anggotaku terlihat berlari ingin menerjang anggota INPA.


DOORR!!


Terdengar suara tembakan yang dilayangkan pada Kapten Mark. Hahah ternyata adegan menerjang tadi ialah salah satu trik pengalihan perhatian agar Kaptren Mark lengah dan akhirnya anggotaku yang lain dapat dengan mudah menembaknya tepat di kepala. Jelas saja ia menembak di kepala, karna bagian tubuh lain para polisi itu pasti sudah dilengkapi anti peluru.


DORR!!! DORR!!! DORR!!


Kemudian perang senjata api dimulai. Tomoki terlihat sedang terlibat baku hantam dengan seorang anggota INPA yang menggantikan tugas Kapten Mark menyanderaku. Tomoki berhasil mengalahkan anggota INPA itu dengan martial arts nya. Maklum saja, semua aggotaku bukan orang sembarangan. Mereka memiliki paling tidak dua keahlian bela diri termasuk dengan senjata api.


“Bos, anda baik baik saja?” kata Tomoki mencoba membantuku melepaskan borgol dan rantai di kakiku.


Tembakan mulai terdengar menggema seisi ruangan. Sementara aku dan Tomoki sedang berusaha keluar dari gedung ini.


Beberapa dari pasukanku terlihat sedang beradu, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak tembakan pistol dan mayat yang tumbang karena pendarahan mungkin. Anggotaku semakin menipis karena banyaknya anggota INPA. Aku harus segera melarikan diri!


Tapi mataku masih mencari keberadaan Elven. Kemana dia. Sejak pertemuanku kemarin, aku tidak melihatnya lagi.


“JANGAN BERGERAK! ATAU KUTEMBAK!”


Shit! Tomoki melupakan pistolnya. Kini aku dan Tomoki dalam bahaya. Tiga anggota INPA kini sudah bersiap menodongkan tembakan padaku. Tidak ada yang dapat membantuku, anggotaku terlalu sibuk dengan pertempurannya masing masing. Mungkin karena kami kekurangan anggota.


***THE BROTHER***


“Cepat tembak! Sebelum mereka berhasil kabur.” Kata seorang anggota INPA.


Aku melihat Kak Vino dan satu anak buahnya sedang dalam bahaya. Sepertinya mereka benar benar terkepung tanpa senjata.
Jantungku berdebar kencang. Tubuhku bergetar. Apa yang harus aku lakukan? Tapi ia kakakku. Kulihat ketiga temanku, anngota INPA menarik pelatuknya dan bersiap..


“TIDAAAAKKK....... HENTIKAN DIA!!!” teriakku refleks sambil berlari ke arah Kakak, dan...


DOORR!! DORR!! DORR!!!


Tiga kali tembakan itu berhasil menghentikanku. Tubuh kakak tumbang seketika. Anggota INPA dibelakangku berhasil menembaknya.


“KAKAAKK!!!!!!!!!!!!”


***THE BROTHER***


Elven memeluk tubuh Vino yang sekarat dan darah yang keluar dari perutnya.


“Aku mohon selamatkan dia.” Elven menangis.


Akhirnya mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat.
“Bertahanlah, kumohon.” Kata Elven sambil memegang erat tangan kakaknya.


“Maafkan aku.”


“Berhenti berbicara. Tolong dipercepat, Pak!” Elven menyuruh sang supir untuk lebih cepat.


“Elven, ini sangat menyakitkan.” Vino menangis. “Aku tak kuat.”


“Kau harus bertahan!!!” Elven menangis sejadinya, ia memeluk Vino lebih erat.


“Aku menepati janjiku Elven. Dalam surat permohonan, aku berjanji akan melindungi dan menjagamu sampai akhir hidupku.” Vino tersenyum.
“Bisakah kau berhenti bicara.” Elven membentaknya.


“Kau harus bahagia adikku.” Kemudian Vino menutup matanya.


“Kakak!!!”


“Aku belum mati Elven, bukannya kau mennyuruhku diam?”


“CEPAT SEDIKIT MENYETIRNYA,PAK!”


“Kau masih tetap cerewet adikku. Hehehe.” Kekeh Vino ditengah sekarat.


“Tapi, sejak kapan cadelmu hilang, hem?” lanjutnya. “Maafkan aku karena menolak mengajarimu naik sepeda. Aku takut kau jadi sering naik sepeda dan mengganggu kesehatanmu.” Kata Vino sambil memejamkan matanya.


“Aku bukan orang penyakitan lagi sekarang! Bukankah kau yang membiayai pengobatabn kanker hatiku dengan bersedia menjadi anak angkat seorang mafia kemudian meninggalkanku begitu saja, hah?”


Uhuk uhuk uhuk!


Vino memuntahkan darah segar dari mulutnya.


“Kau diam saja, Ka!” kata Elven panik.


“Heum..” Vino bergumam, kemudian memejamkan matanya.


***THE BROTHER***


Aku menunggu dengan cemas di depan pintu UGD. Bagaimana keadaan kakakku? Oh Tuhan selamatkan dia, kumohon. Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang UGD. Aku menatapnya seolah meminta jawaban. Namun..
“Maafkan saya.. Vino tidak bisa diselamatkan. Ia kehabisan banyak darah.”


Aku tertegun “Kakak..”


***THE BROTHER***


0 comments:

Post a Comment

Thanks for comments, I will reply soon!