Bukan Tempat Sampah

“SAYA BUKAN TEMPAT SAMPAH! Yang menanggung semua keluh kesahmu.”

Mungkin beberapa dari kalian pernah merasakannya atau malah ada yang tersindir? Kalau tersindir, itu pertanda kalian harus mengevaluasi apa yang kalian telah banyak lakukan kepada orang lain terutama orang disekitar kalian.

Kita tidak bisa memungkiri adakalanya berada dalam kondisi lemah, down, banyak masalah, galau, gamang, bimbang, merana dll. Ada yang memutuskan untuk menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri namun banyak dari kita untuk mencurahkannya. Teman, pacar, sahabat, kakak, adik, ibu, ayah atau seseorang tempat curhat – termasuk sosmed – lainnya.

Saya pun termasuk orang yang suka mendengarkan curahan hati seseorang. Saya suka mendengarkan banyak kisah, saya juga suka menonton film dan membaca satu cerita, biografi, kejadian, atau pengalaman seseorang. Itu membuat saya belajar banyak. Moral value dari suatu kejadian, tanpa harus mengalami – mungkin – kejadian pahitnya. Itu seperti reminder and guide all at once.

Namun, saya pun bukan seorang Budha yang hidup damai tanpa masalah atau customer service dan call center yang 24 jam ready untuk customer complaint handling.

Saya manusia. Seperti orang kebanyakan. Bisa lelah, bisa muak, bisa juga kecewa.

Itu terjadi ketika seseorang yang paling saya sayangi entah disadari atau tidak menjadikan saya tempat keluh kesahnya. Everything about you come first – tulah motto saya untuknya – oleh karena itu saya tidak keberatan sama sekali. Dengan tulus, saya senang.

Karena motto tadi membuat saya berempati 200% meningkat. Apa yang dia rasa saya juga rasa. Apa yang dia pikir dia takutkan, itulah yang juga saya takutkan. Apa yang dia pikir dia hindari, itulah juga yang saya hindari. Apa yang dia pikir membuatnya marah, itulah juga yang membuat saya marah. Apa yang dia pikir membuatnya malu, itulah juga membuat saya malu. Namun, ada yang janggal.

Kemana perginya rasa bahagia?

Saya juga ingin ‘dibagi’ rasa kebahagiaan.

Apakah tidak pernah ada kebahagiaan yang juga akan saya rasakan?

Jawabannya tidak.

Mengapa tidak?

Karena dia membagi kebahagiaan adalah bukan pada saya dan bukan tugas saya, itu – mungkin – menurutnya. Dia membagi kebahagiaan dengan orang lain. Saya bukan dewa yang juga ikut berbahagia apapun itu, sedang saya memikul beban kesedihan dan masalahnya. Saya mencari seribu satu solusi atas segala kesedihannya, kesulitannya, keterpurukannya. Saya mencari berbagai cara untuk menghindarkannya dari berbagai penyakit, bahaya, juga ketakutannya. Namun, saya hanya bisa melihat dari kejauhan bahwa ia bahagia.

Entah apa yang harus saya lakukan. Saya rasakan. Namun, yang pasti saya sangat ingin mengucapkan…

“Saya bukan hanya tempat sampah, saya menyayangimu melebihi apapun di dunia ini.”