The Proposal



“Brengsek!” aku benar benar marah! Ini sudah cukup bagiku. Penghianat itu. Aku membenci mereka. Kekasihku dan sahabat terbaikku.

Tidak cukupkah dengan mereka di hotel sedang aku sendirian, makan malam bersama sedang aku memiliki masalah di kantor, jalan – jalan di tempat favoritku sedang aku kesepian, dan kali ini apa? Kulihat Melisa sedang tertawa bahagia saat Romeo, kekasihku menyematkan cincin di jari manisnya? Apakah mereka akan membeli cincin pasangan dan meresmikan hubungan mereka lantas menghancurkan hidupku?!

Tidak akan ada tawa bahagia lagi setelah ini, Melisa. Kau sahabatku. Tapi kau merebut Romeo dariku. Bahkan disaat kau tahu aku tak bisa hidup tanpanya.

Aku mengikuti mereka. Kulihat mereka memasuki rumah. Itu rumah Melisa. Aku sangat tahu karena disanalah biasanya aku menghabiskan waktu hanya untuk menyampaikan keluh kesah pada sahabat terbaikku. Tidak! aku ralat. Dia bukan lagi sahabatku. Tidak ada sahabat yang menikung kekasih hati sahabatnya.

Romeo kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau bisa berbuat begitu manis padaku selama 5 tahun ini, kalau Melisa adalah tujuanmu sebenarnya? Apakah ini tidak berarti apa – apa untukmu?

Romeo menaruh semua belanjaan nya di lantai ruang tamu Melisa. Ia begitu bahagia, sekaligus gelisah mengingat detik - detik mendekati hari H. Ia sudah menyusun rencana indahya. Sangat indah. Dan ia yakin kegelisahannya harus ia buang jauh – jauh karena ia sudah mantap dan yakin bahwa sang kekasih akan menerimanya. Sabrina, aku akan menjadikanmu satu – satunya!

“Aku sudah tidak sabar Mel, haah” ungkap Romeo sambil menghela napas, gugup. Ia menatap tangannya yang menggenggam kotak beludru merah. Melisa berjalan mendekat.

“Aku juga Romeo. Kenapa kau jadi begitu manis seperti ini?” kata Melisa sambil tertawa. Karena kurang fokus, Melisa tersandung kantung belanjaan Romeo dan terjatuh ke sofa sebelum pelukan Romeo meyelamatkan. Nafas mereka memburu, mereka saling menatap intens, sangat dekat.

“Melisa, kamu…” Romeo belum sempat menyelesaikan kata – katanya, ketika suara tembakan yang begitu kencang.

“ROMEOOO…!!! Melisa teriak sangat kencang, saat melihat tubuh Romeo yang tadi memeluknya merosot. Melisa terlepas dari pelukan Romeo dan membelalakan matanya kaget. Sabrina sedang memegang pistolnya, sahabatnya itu terengah – engah, tatapan matanya ketakutan sekaligus menggelap marah tetapi tangannya bergetar.

“Sabrina, apa yang kamu coba lakukan!” teriak Melisa semakin histeris.

Romeo terhuyung ke belakang sambil memegang dadanya. Dadanya bersimbah darah, membuat wajah Romeo pucat pasi. Lelaki itu bahkan tidak mempedulikan teriakan Melisa. Dia menatap Sabrina, yang masih menodongkan pistol di tangannya. Romeo, ekspresi wajahnya begitu sedih, sedih luar biasa, hinga membuat siapapun yang melihatnya akan merasa seperti diremas jantungnya.

Romeo menjulurkan genggaman tangan nya pada Sabrina dengan masih menatap. Kemudian membukanya, kotak beludru merah itu ikut terbuka dan menampilkan sebuah cartier bertahtakan berlian indah di atasnya.

“Kau.. menembakku Sabrina? Sayangku?.... ” kemudian tubuh Romeo rubuh di lantai tak sadarkan diri.

0 comments:

Post a Comment

Thanks for comments, I will reply soon!