In God We Trust

Judul di atas adalah tagline Atalanta. Kantor tempat bekerja saya sebelumnya. Tempat pertama kali saya mendapat pengalaman bekerja.

Orang tua saya pernah membandingkan pekerjaan saya dulu dan sekarang. Sedikit banyak berkesan negatif. Di dalam hati ingin berontak. Tapi apa daya jika berhadapan dengan orang tua.

Ini bukan soal gaji, jenjang karir atau sekedar prestige. Tapi pengalaman sekaligus menjadi kenangan. Kepuasan dan kesenangan tersendiri bisa bertemu dengan banyak orang dengan berbagai macam karakter, latar belakang dan kebutuhannya.

Apapun itu, atalanta tetap guru yang sangat berharga untuk saya. Saya belajar banyak disana. Tentang disiplin, tanggung jawab, dedikasi dan pelayanan juga tentang kerjasama dalam tim. Entah berapa banyak ilmu berharga yang saya dapat, it’s truly blessing.

Business is service business. Pelayanan terbaik adalah hal penting dalam bisnis dengan jutaan pesaing. Konsumen adalah raja. Yap, klise memang. Tapi sangat tidak mudah mengaplikasikan kalimat klise itu. Apapun ‘bentuk’ konsumen, suka atau tidak, terima atau tidak, ada beberapa persen gaji kita yang sumbernya dari mereka. Otomatis hidup kita pun bergantung pada kepuasan konsumen.

The vision needs to live. Setiap hari dalam hidup akan banyak ‘kejutan’ yang mungkin tak pernah disangka. Hari ini senang, besok belum tentu masih bisa tersenyum. Hari ini ditimpa masalah, bisa jadi waktu yang meredakannya. Hidup harus tetap berjalan apapun keadaannya. Dan visi seharusnya menjadi ‘teman’ kita, yang membimbing kemana kita harus melangkah dan menyemangati untuk tetap melangkah walau tidak bisa menemukan jalan sekalipun.

In God we trust. Itu yang paling penting. Tuhan bukan tempat mengadu masalah saja. Tapi Tuhan punya kuasa untuk memudahkan segalanya. Mukjizat bukan hal yang mustahil. Bahkan di waktu – waktu terhimpit sekalipun. Dia menenangkan hati, menunjukkan jalan dan selalu memberi yang terbaik.

0 comments:

Post a Comment

Thanks for comments, I will reply soon!