Don't Be A Denied People!

Never run after the people who willingly walk out of your life. If God wants them in it, they’ll be back. If not, then they did you a favor. If you live for the approval of others, you’ll die from their rejection! Live for the approval of one: God. Don’t be someone who spends a lot time trying to please people who can’t help you rich your destiny.

Sampai detik ini, itulah yang saya pegang. Banyak orang yang mengatakan bahwa saat kita semakin dewasa nanti, teman-teman terdekat kita akan semakin sulit untuk ditemui, mereka seolah ‘pergi’ dengan segala urusan mereka masing-masing. Oleh karena itu, kita harus memelihara tali pertemanan itu. Saya setuju. Hanya 50%. Sisanya? Saya hanya percaya pada Tuhan. Menjalankan apa yang Dia tunjukkan.

Menurut saya, tidak semua teman kita dari masa lalu, entah itu dari masa balita, kanak-kanak, sekolah, remaja atau kuliah harus dipertahankan. Mengapa? Karena mereka hanya teman.

Dulu saya adalah orang yang sangat bergantung pada teman. Bergantung yang saya maksud adalah mempercayai bahwa “Ya! They are my best friend.” Namun tidak lagi saat saya mulai memasuki masa sulit saya, then I look for my best friend. Tapi apa yang saya dapatkan? I see them having fun with their new people. They just say so sorry for the misfortune that befall me. Dan demi Tuhan, itu semua cuma bulshit! Tak akan sedikit pun berguna.

Setelah kejadian itu, saya pikir mungkin saya hanya salah memilih teman. Saya mencoba menghibur diri. Saya pun mulai membuat lingkaran pertemanan baru. Namun naas nya yang saya dapat hanya kejadian yang serupa. Saat saya telah mempercayai seorang, saya menyebutnya sahabat waktu itu, namun mereka hanya menganggap saya teman yang mungkin besok atau lusa atau kapan saja bisa terganti seiring mood mereka dan orang-orang baru disekitarnya. Mereka hanya menganggap saya tempat singgah sejenak untuk melepas kebosanan dengan yang lama.

Peristiwa di atas terus terjadi di hidup saya, terutama saat masa sekolah. Itulah mengapa saya membenci masa sekolah. Bahkan orang-orang diluar sana sangat ingin kembali ke bangku sekolah, berbanding terbalik dengan saya. Hari kelulusan adalah hari kedua yang paling saya syukuri setelah hari ulang tahun saya.

Kemudian saya terus berpikir, kenapa saya harus bersusah mencari alasan untuk meyakinkan diri saya bahwa pertemanan memang harus diperjuangkan, sedangkan mereka terus mengabaikan ? Doing useless things.

Mulai saat itu saya berjanji pada diri saya, tidak akan pernah mempercayai seseorang. Saya tumbuh dengan mindset bahwa tidak akan ada yang namanya teman sejati, sahabat, best friend atau hal bulshit apalah orang lain menyebutnya. Hari ini jadi teman, besok bisa jadi musuh. Itu terus melekat sampai akhirnya saya menjadi pribadi yang tebuka namun tertutup. Saya bisa menerima semua orang baru yang hadir dalam hidup saya, namun tidak satu pun dari mereka yang mengeatahui isi hati saya. Bukan berarti saya tidak punya teman dan menutup diri. It’s really big mistake.

Saya hanya mengikuti aturan main Tuhan. Dia ingin saya bertemu dan berteman dengan si A. I will do it. And then, God wanted me to leave or abandoned them? With my pleasure. I never promise anything on them. So, I will never feel guilty when I leave. But one, breakups hurt, but losing someone who doesn’t respect and appreciate you is actually a gain, not a loss.
Jadi untuk apa kita harus terlihat menyedihkan? Berbahagialah. Bertemanlah dengan orang yang ingin kamu ajak berteman, dan dengan mereka yang menginginkanmu juga. Kadang egois memang harus ada, karena altruisme hanya Nabi dan orang tua yang punya.

0 comments:

Post a Comment

Thanks for comments, I will reply soon!