Prioritas

Salah satu dosen akuntansi saya pernah mengatakan sesuatu yang sedikit 'menggelitik' saya. Beliau mengatakan bahwa kami (mahasiswa) memakai 'aksesori' atau berpenampilan yang 'wah!' tapi kenapa kami tidak memilih untuk berkuliah di kampus atau lembaga perkuliahan yang 'wah!' juga?


Penampilan 'wah!' yang dosen saya maksud adalah tentang gaya hidup kami. Contohnya berpakaian dandy masa kini, memiliki gadget super canggih, tas, sepatu, make up, sampai ke hangout corner ternama. Intinya, beliau miris melihat anak didiknya ternyata lebih memprioritaskan gaya dan penampilan dibandingkan dengan -mungkin- kualitas ilmu yang bisa didapat.


Terdengar sangat menyakitkan memang menurut saya. But then, she might have a point?


priority


Hidup adalah sebuah pilihan. Itulah yang selalu kita dengar dari kebanyakan. Tapi memang itulah kenyataannya. Saya pun mengalaminya.


Banyak hal yang harus kita kerjakan atau butuhkan. Dengan segala keterbatasan yang ada, kita mungkin tidak dapat melakukannya semua atau kita tidak bisa melakukan secara bersamaan. Dan menurut 'ajaran' skala prioritas, semestinya harus ada yang dinomor satukan. That's point!


Menomorsatukan pendidikan memang cukup sulit. Sama dengan sulitnya mengatur prioritas. Yang mengharuskan kita meninggalkan kesenangan jangka pendek demi meraih kesenangan jangka panjang yang jauh lebih besar dan penting. Ya! itulah godaan perspektif jangka panjang. Tidak bisa menjadi bebas sebebas-bebasnya.


Mendisiplinkan diri untuk melakukan apa yang kita tahu bahwa hal itu benar dan penting. Kuncinya adalah pengorbanan. Itulah yang mungkin harus kita lakukan.


Seperti kata Peter Drucker, "Efisiensi itu adalah melakukan berbagai hal dengan benar, tapi efektivitas itu adalah melakukan berbagai hal yang benar." Dan ini membutuhkan pemikiran.



0 comments:

Post a Comment

Thanks for comments, I will reply soon!